Report Abuse

23 weeks & Babymoon

"A babymoon is a vacation taken by a couple that is expecting a baby either soon before, or soon after, the birth of their baby, ..., in order to allow the couple to enjoy a final trip together before the baby is born." -Wikipedia
Trimester kedua, masa kehamilan antara minggu ke-13 sampai ke-27 yang sering disebut-sebut sebagai ‘periode bulan madu’ untuk alasan yang sangat menyenangkan karena pada umumnya the morning or everytime-sickness like mual-mual dan migrain sudah jauh berkurang, emosi lebih stabil, janin sudah lebih kuat, minim potensi persalinan sebelum waktunya dan (katanya sih) gairah seks juga kembali normal. Nah di pertengahan masa emas ini lah, yaa kira-kira di minggu ke 23, kami pun memutuskan untuk pergi babymoon berduaan. Sebelumnya, kami memang merencanakan untuk sekedar pergi berlibur dengan membawa serta adik-adik kami (biar suami ga kerepotan ngurusin bumil sendirian hehe) ke Phuket, Thailand, tapi ingnya saat tiket sudah mau di booked, nominalnya pun berubah lumayan jauh di tanggal-tanggal available kami, sehingga adik-adik kami pun mengurungkan niatnya untuk ikut berlibur.

Setelah konsultasi / check up ke dokter dan dibekali surat izin terbang dari beliau, seminggu setelah kami mengadakan pengajian 4 bulanan dan melewati drama sakit-sakitnya si suami, kami pun berangkat naik budget airlines yang harganya gak budget-budget amat itu, well yaa you guys know lah.. Sebelumnya kami memang udah 2x liburan bareng ke Bali, tapi baru kali ini kami menjamah pulau di luar Bali yang masih 1 propinsi dengan Bali itu, ya, di Nusa Ceningan.

Persiapan demi persiapan (baca blog-blog travel di google) pun sudah kami siapkan sebelumnya karena kami memang sama sekali asing dengan pulau ini, dan yaa isunya sih pulau ini lebih ndeso dari Gili Trawangan, Lombok yang memang banyak di develop oleh pengusaha asing. Lumayan bikin deg-deg seur sih begitu baca untuk menjamah pulau ini dengan lebih cepat (kira-kira 30 menit; much more pricey than the public boat) harus dengan fast boat yang bertenaga kuda dari pelabuhan di Sanur. Kebayang aja sih si abay (AdekBAYi; panggilan ing buat si calon baby) kegoncang-goncang di dalem perut selama setengah jam di atas kapal, euggh. Nah, si fast boat ini berlabuhnya di Nusa Lembongan, sedangkan untuk mencapai hotel kami di Nusa Ceningan kami perlu naik motor lagi (yaa karena motor adalah 99% kendaraan bermotor di pulau ini, selain karena memang jalan di pulau nya kecil) dengan jarak tempuh kira-kira 15 menit include dengan menyebrang di jembatan penghubung antara Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Selain itu, hal yang bikin insecure lainnya adalah kondisi jalan yang tidak beraspal alias jalan desa yang berbatu-batu di Nusa Ceningan, jauh berbeda dengan Nusa Lembongan yang kondisi jalannya sudah lebih manusiawi untuk dilaluin kendaraan bermotor.

Alhamdulillah sesampainya di hotel yang mistis jalannya (karena kita masih buta bgt daerah situ pada awalnya), semua kesel-kesel, kepanasan, plus capek di jalan naik motor dengan menahan badan yang lagi hamil 23 minggu pun buyar dan terbayar sudah! Well.. the concept is as long as you go with your loved ones (including the baby inside), it doesn't even that matters. Besides, after we spend day by day in Nusa Ceningan and Nusa Lembongan and exploring both of the island (and took some maternity shot hehe), IT'S ALL WORTH IT! Thankyou dear hubby for make this happened for (the three of) us :)

 
 
 
 



Related Posts

Post a Comment